Tampilkan postingan dengan label kartu kredit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kartu kredit. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Agustus 2011

KECANDUAN KARTU KREDIT

KECANDUAN KARTU KREDIT

Bulan Juli ini adalah “bulan kebobolan”. Kenapa saya sebut begitu? Karena, setelah musim liburan anak sekolah bulan lalu, dimana seluruh anggota keluarga royal berbelanja selama liburan, kini saatnya para orang tua “cuci-cuci piring”.

Banyak dari ibu-ibu yang kaget karena tanpa disadari duitnya habis kesedot belanja liburan. Banyak bapak-bapak yang takjub melihat tagihan kartu kreditnya membengkak bukan kepalang. Akibatnya bisa diduga, bulan Juli ini sekaligus adalah “bulan prihatin” atau “bulan tiarap berbelanja”.

Seperti saya tulis minggu lalu, masa liburan adalah masa-masa dimana kita begitu royal mengeluarkan uang dengan berbelanja. Di masa liburan, bawaannya kita ingin belanja, belanja, dan belanja (saya sebut “hantu 3B”).

Momentumnya pas, karena di saat kita lagi seru-serunya ingin berbelanja; toko, mal, atau department store berlomba-lomba menawarkan diskon. Tak hanya itu, saat kita berlibur (ke Bali, ke Trans Studio Bandung, atau ke Universal Studio Singapore) “hantu 3B” bergentayangan menghipnotis akal sehat kita. Karena hantu modern ini, kita seperti kesurupan berbelanja.

Celakanya, nafsu belanja yang kepalang besar seringkali membutakan mata dan hati kita pada kemampuan dompet kita. Pokoknya hantam dulu dengan jurus 3B dan lupakan yang lain. Di masa liburan, yang penting kita bisa memanjakan nafsu 3B dan melupakan isi dompet. Kalau perlu keluarkan jurus sakti lain, yaitu “jurus kartu kredit” alias ngutang.

Dalam banyak kesempatan menjelaskan konsumen kelas menengah (middle class consumers) saya sering mengatakan bahwa kartu kredit kini sudah menjadi “mass luxury” bagi konsumen kelas menengah Indonesia. Saya sebut mass luxury, karena kartu kredit kini sudah tidak menjadi barang mewah lagi.

Kini begitu banyak ibu-ibu dari kelompok konsumen ini sudah memilikinya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari: belanja di Carefour, ngredit lemari es atau mesin cuci, membeli baju bapak di Matahari, atau membayar les piano anak-anak. Begitu juga bapak-bapaknya, mulai kecanduan kartu kredit untuk membeli buku atau CD, nongkrong di kafe, atau ngredit iPad 2.

Agar nyambung dengan tulisan saya minggu lalu mengenai “hantu 3B”, dalam tulisan minggu ini saya ingin mengungkapkan sedikit fakta mengenai penyakit modern yang mulai merasuki konsumen kelas menengah, yaitu penyakit “kecanduan kartu kredit”. Berikut ini beberapa fakta dari pengamatan on the spot saya terhadap pengguna kartu kredit, termasuk pengamatan terhadap diri saya sendiri.

“TutupMata”

Orang yang kecanduan kartu kredit umumnya “tidak sensitif” terhadap sejumlah uang yang ia keluarkan saat berbelanja memakai kartu kredit. Karena pola pikir “buy now, pay later”, mereka cenderung “tutup mata” terhadap sejumlah uang yang mereka belanjakan. Ini berbeda kalau kita berbelanja dengan uang kertas yang sesungguhnya (cash).

Ketika kita membayar belanjaan dengan uang kertas di tangan, maka kita akan “merasakan” bahwa sejumlah uang kita melayang. Akibatnya, kita pun masih punya intensi untuk mengekang atau ngirit berbelanja. Hal terakhir ini yang tidak didapati pada orang yang sudah kecanduan kartu kredit.

Studi mengenai perilaku berbelanja para pengguna kartu kredit di Hong Kong menghasilkan temuan yang menarik. Rupanya, orang-orang yang berbelanja menggunakan kartu kredit cenderung sulit mengingat berapa jumlah uang yang telah mereka belanjakan. Studi itu menunjukkan, hanya 35% saja dari responden yang masih ingat berapa jumlah pasti dari uang yang telah mereka belanjakan.

Decoupling

Kartu kredit menjadikan aktivitas berbelanja seolah-olah “terlepas” dari aktivitas membayar. Inilah yang di kalangan behavioral economist disebut sebagai fenomena “decoupling” atau keterlepasan. Ketika kita menggunakan uang kertas, maka aktivitas berbelanja dan aktivitas membayar itu “terkait” karena kedua aktivitas tersebut dilakukan bersamaan pada saat bertransaksi (begitu kita mendapat barang, kita langsung membayar).

Dalam kasus membayar dengan kartu kredit, dua aktivitas itu seolah terlepas, karena di mal kita berbelanja dan mendapatkan barangnya, tapi membayarnya dilakukan sebulan kemudian saat datang tagihan. Celakanya lagi kalau yang membayar tagihan itu bukan kita, tapi istri kita. Fungsi dasar kartu kredit inilah yang membentuk budaya belanja “buy now, pay later”; sebuah budaya yang membetuk kita menjadi “pembelanja berdarah dingin” karena tak punya empati terhadap kembang-kempisnya isi kantong kita.
Spent More… Perfect Impulse Buyer

Orang yang kecanduan kartu kredit cenderung berbelanja lebih banyak dan lebih royal. Mereka lebih gampang terkena pengaruh impulse buying karena adanya iklan atau gimmick promosi di mal. Ketika kecanduan kartu kredit ini sudah demikian akut, maka kebanyakan dari mereka mulai terjangkit mentalitas berbelanja “pokoknya harus beli sekarang juga!!!”.
Maksudnya, ketika mereka sudah menemukan barang yang diidamkannya, mereka menjadi kalap dan tanpa kompromi untuk membelinya saat itu juga. Tentu dengan menggunakan “senjata ampuh” kartu kredit, tanpa peduli sedikitpun terhadap beban tagihan di kemudian hari.

Budak “The Latest & The Greatest”

Dalam banyak kasus, konsumen yang sudah kecanduan kartu kredit biasanya juga menjadi (mohon maaf) “budak” dari produk-produk terbaru dan terhebat. Mereka biasanya berikrar: “Saya harus membeli barang ini karena barang ini lebih baru, lebih cool, lebih besar, lebih canggih, lebih stylist, lebih…”
Belum lama (sekitar setahun) kita beli iPad, eh iPad 2 yang lebih cool, lebih canggih, lebih tipis, lebih banyak fitur, lebih lama baterainya, dan lebih-lebih yang lain, nongol di toko. Pada saat itulah kita berikrar sambil bersumpah-sumpah: “saya harus beli yang ini!!!”
Awas OKB Gadungan!!!

Kalau penyakit kecanduan kartu kredit di atas menjangkiti OK (orang kaya) atau OKB (orang kaya baru) tentu tak masalah karena mereka banyak duit. Menjadi celaka, ketika penyakit tersebut menjangkiti “OKB Gadungan”. Yang saya maksud “OKB Gadungan” adalah orang-orang yang perilaku berbelanjanya sudah berlagak OK/OKB; tapi sesungguhnya dari sisi isi kantong belum masuk standar OK/OKB. Takutnya, keuangan para “OKB gadungan” ini lebih besar pasak daripada tiang.

Kalau sudah begitu, takutnya lagi banyak dari kartu kredit mereka akan default alias tak mampu bayar

Rabu, 13 Juli 2011

Kecanduan Kartu Kredit

KECANDUAN KARTU KREDIT

Bulan Juli ini adalah “bulan kebobolan”. Kenapa saya sebut begitu? Karena, setelah musim liburan anak sekolah bulan lalu, dimana seluruh anggota keluarga royal berbelanja selama liburan, kini saatnya para orang tua “cuci-cuci piring”. Banyak dari ibu-ibu yang kaget karena tanpa disadari duitnya habis kesedot belanja liburan. Banyak bapak-bapak yang takjub melihat tagihan kartu kreditnya membengkak bukan kepalang. Akibatnya bisa diduga, bulan Juli ini sekaligus adalah “bulan prihatin” atau “bulan tiarap berbelanja”.

Seperti saya tulis minggu lalu, masa liburan adalah masa-masa dimana kita begitu royal mengeluarkan uang dengan berbelanja. Di masa liburan, bawaannya kita ingin belanja, belanja, dan belanja (saya sebut “hantu 3B”). Momentumnya pas, karena di saat kita lagi seru-serunya ingin berbelanja; toko, mal, atau department store berlomba-lomba menawarkan diskon. Tak hanya itu, saat kita berlibur (ke Bali, ke Trans Studio Bandung, atau ke Universal Studio Singapore) “hantu 3B” bergentayangan menghipnotis akal sehat kita. Karena hantu modern ini, kita seperti kesurupan berbelanja.

Celakanya, nafsu belanja yang kepalang besar seringkali membutakan mata dan hati kita pada kemampuan dompet kita. Pokoknya hantam dulu dengan jurus 3B dan lupakan yang lain. Di masa liburan, yang penting kita bisa memanjakan nafsu 3B dan melupakan isi dompet. Kalau perlu keluarkan jurus sakti lain, yaitu “jurus kartu kredit” alias ngutang.

Dalam banyak kesempatan menjelaskan konsumen kelas menengah (middle class consumers) saya sering mengatakan bahwa kartu kredit kini sudah menjadi “mass luxury” bagi konsumen kelas menengah Indonesia. Saya sebut mass luxury, karena kartu kredit kini sudah tidak menjadi barang mewah lagi.

Kini begitu banyak ibu-ibu dari kelompok konsumen ini sudah memilikinya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari: belanja di Carefour, ngredit lemari es atau mesin cuci, membeli baju bapak di Matahari, atau membayar les piano anak-anak. Begitu juga bapak-bapaknya, mulai kecanduan kartu kredit untuk membeli buku atau CD, nongkrong di kafe, atau ngredit iPad 2.

Agar nyambung dengan tulisan saya minggu lalu mengenai “hantu 3B”, dalam tulisan minggu ini saya ingin mengungkapkan sedikit fakta mengenai penyakit modern yang mulai merasuki konsumen kelas menengah, yaitu penyakit “kecanduan kartu kredit”. Berikut ini beberapa fakta dari pengamatan on the spot saya terhadap pengguna kartu kredit, termasuk pengamatan terhadap diri saya sendiri.
“TutupMata”

Orang yang kecanduan kartu kredit umumnya “tidak sensitif” terhadap sejumlah uang yang ia keluarkan saat berbelanja memakai kartu kredit. Karena pola pikir “buy now, pay later”, mereka cenderung “tutup mata” terhadap sejumlah uang yang mereka belanjakan. Ini berbeda kalau kita berbelanja dengan uang kertas yang sesungguhnya (cash). Ketika kita membayar belanjaan dengan uang kertas di tangan, maka kita akan “merasakan” bahwa sejumlah uang kita melayang. Akibatnya, kita pun masih punya intensi untuk mengekang atau ngirit berbelanja. Hal terakhir ini yang tidak didapati pada orang yang sudah kecanduan kartu kredit.

Studi mengenai perilaku berbelanja para pengguna kartu kredit di Hong Kong menghasilkan temuan yang menarik. Rupanya, orang-orang yang berbelanja menggunakan kartu kredit cenderung sulit mengingat berapa jumlah uang yang telah mereka belanjakan. Studi itu menunjukkan, hanya 35% saja dari responden yang masih ingat berapa jumlah pasti dari uang yang telah mereka belanjakan.

Decoupling
Kartu kredit menjadikan aktivitas berbelanja seolah-olah “terlepas” dari aktivitas membayar. Inilah yang di kalangan behavioral economist disebut sebagai fenomena “decoupling” atau keterlepasan. Ketika kita menggunakan uang kertas, maka aktivitas berbelanja dan aktivitas membayar itu “terkait” karena kedua aktivitas tersebut dilakukan bersamaan pada saat bertransaksi (begitu kita mendapat barang, kita langsung membayar).

Dalam kasus membayar dengan kartu kredit, dua aktivitas itu seolah terlepas, karena di mal kita berbelanja dan mendapatkan barangnya, tapi membayarnya dilakukan sebulan kemudian saat datang tagihan. Celakanya lagi kalau yang membayar tagihan itu bukan kita, tapi istri kita. Fungsi dasar kartu kredit inilah yang membentuk budaya belanja “buy now, pay later”; sebuah budaya yang membetuk kita menjadi “pembelanja berdarah dingin” karena tak punya empati terhadap kembang-kempisnya isi kantong kita.
Spent More… Perfect Impulse Buyer

Orang yang kecanduan kartu kredit cenderung berbelanja lebih banyak dan lebih royal. Mereka lebih gampang terkena pengaruh impulse buying karena adanya iklan atau gimmick promosi di mal. Ketika kecanduan kartu kredit ini sudah demikian akut, maka kebanyakan dari mereka mulai terjangkit mentalitas berbelanja “pokoknya harus beli sekarang juga!!!”. Maksudnya, ketika mereka sudah menemukan barang yang diidamkannya, mereka menjadi kalap dan tanpa kompromi untuk membelinya saat itu juga. Tentu dengan menggunakan “senjata ampuh” kartu kredit, tanpa peduli sedikitpun terhadap beban tagihan di kemudian hari.

Budak “The Latest & The Greatest”
Dalam banyak kasus, konsumen yang sudah kecanduan kartu kredit biasanya juga menjadi (mohon maaf) “budak” dari produk-produk terbaru dan terhebat. Mereka biasanya berikrar: “Saya harus membeli barang ini karena barang ini lebih baru, lebih cool, lebih besar, lebih canggih, lebih stylist, lebih…” Belum lama (sekitar setahun) kita beli iPad, eh iPad 2 yang lebih cool, lebih canggih, lebih tipis, lebih banyak fitur, lebih lama baterainya, dan lebih-lebih yang lain, nongol di toko. Pada saat itulah kita berikrar sambil bersumpah-sumpah: “saya harus beli yang ini!!!”
Awas OKB Gadungan!!!

Kalau penyakit kecanduan kartu kredit di atas menjangkiti OK (orang kaya) atau OKB (orang kaya baru) tentu tak masalah karena mereka banyak duit. Menjadi celaka, ketika penyakit tersebut menjangkiti “OKB Gadungan”. Yang saya maksud “OKB Gadungan” adalah orang-orang yang perilaku berbelanjanya sudah berlagak OK/OKB; tapi sesungguhnya dari sisi isi kantong belum masuk standar OK/OKB. Takutnya, keuangan para “OKB gadungan” ini lebih besar pasak daripada tiang. Kalau sudah begitu, takutnya lagi banyak dari kartu kredit mereka akan default alias tak mampu bayar

Kamis, 24 Februari 2011

Lima Langkah Keluar dari Jeratan Kartu Kredit

Lima Langkah Keluar dari Jeratan Kartu Kredit

Pengguna kartu kredit dapat dibedakan menjadi dua kelompok.
Kelompok pertama adalah pengguna yang memakai kartu kredit karena mereka tak punya uang tunai di rekening bank untuk membayar dan membeli apa yang mereka inginkan.
Kelompok kedua adalah mereka yang memakai kartu kredit sebagai alat untuk mempermudah pembayaran. Kelompok ini hanya membeli barang yang memang sanggup dibeli dan membayar tagihan secara penuh setiap bulan. Kelompok ini kerapkali hanya menggunakan kartu kredit untuk memanfaatkan promo dari provider kartu kredit. Termasuk kelompok yang manakah Anda? Selamat jika anda masuk kelompok kedua, karena kelompok ini sangat jarang ditemui.
Adapun pengguna kartu kredit tipe pertama seringkali berakhir dengan terlilit hutang Karena membelanjakan lebih banyak dari kemampuan. Kebiasaan ini harus diubah agar kesehatan finansial meningkat. Inilah lima langkah sederhana dari USNews, tapi membutuhkan perjuangan untuk menjalaninya.
1. Sadari pengeluaran.
Menggesek kartu kredit memang terasa mudah dan tak membutuhkan usaha sama sekali. Beberapa orang mengakui bahwa saat membayar belanjaan dengan kartu kredit mereka tak merasa menghamburkan uang seperti ketika membayar dengan uang tunai. catat setiap pengeluaran dan lakukan analisis, apa yang menjadi pengeluaran terbanyak. Makan di restoran? Belanja baju? Kurangi belanja yang tidak perlu.
2. Komitmen untuk berubah.
Berbelanja kadang tak banyak menggunakan logika dan alasan. Apalagi bagi para impulsif shoppers yang sulit bisa menahan diri ketika melihat barang yang menarik. Komitmen harus tinggi, fokus pada kerusakan yang telah ditimbulkan karena belanja tanpa perhitungan.
3. Waspadai trik pemasaran.
Bank tak peduli apakah anda punya uang untuk dibelanjakan atau tidak. Semakin anda menunda pembayaran, justru perusahaan akan mendapatkan untung dari bunga kredit anda. Memang tak mungkin sepenuhnya lepas dari pengaruh iklan, tapi waspadalah dan jangan sampai terjebak dalam promosi yang sebenarnya tidak anda perlukan.
4. Putus lingkaran utang.
Punya terlalu banyak kartu bisa menimbulkan disorganisasi dan menambah utang tanpa terasa. Pilih kartu yang punya bunga paling sedikit, lalu pindahkan semua tagihan kartu lain ke kartu berbunga rendah.
Tutup semua rekening yang sudah tidak dipakai dan gunting kartunya. Untuk sementara, hindari berbelanja dan sebisa mungkin gunakan uang anda untuk mencicil hutang. Selama periode ini, hindari berbelanja. Simpan kartu kredit anda baik-baik. Beberapa orang menyimpan kartu kredinya dengan cara membekukan dalam es di freezer. Cara ini membuat agar tak terjangkau tapi tetap bisa digunakan dalam keadaan darurat.
5. Cek kemajuan Anda setiap bulan.
Total utang personal seharusnya tidak lebih dari 30 persen dari total pendapatan anda setiap tahun. Misalkan gaji anda Rp 3 juta, maka utang anda tak boleh lebih dari 10,2 juta.

Minggu, 19 September 2010

Melepas Jerat Kartu Kredit

Melepas Jerat Kartu Kredit


VIVAnews - Memang kartu kredit adalah sarana perbankan yang bisa memudahkan Anda dalam berbelanja. Akan tetapi bunga kartu kredit yang tinggi membuat bank ‘senang sekali’ membujuk nasabah untuk terus menggesek kartunya, sehingga mendapatkan penghasilan dari bunga.

Fauziah Arsiyanti Fauzan, Financial Planner First Principal Financial Singapore, mengingatkan, kartu kredit merupakan bentuk pinjaman dengan bunga tertinggi. Bunganya berkisar antara 3–3,75 persen per bulan. Dalam setahun, bisa mencapai 36-45 persen.

Rasanya tak ada investasi yang bisa memberikan return setinggi itu dalam setahun. Kalaupun ada, pastinya jenis investasi yang berisiko tinggi, dan tidak setiap tahun menghasilkan return seperti itu.

Segera bayar lunas semua utang kartu kredit Anda. Kurangi juga jumlah kepemilikan kartu kredit. Cukup satu kartu. "Ubah mind set Anda, bahwa kartu kredit bukanlah ‘source of income’ yang bisa menjadi tambahan uang belanja, tapi kartu kredit adalah utang yang bisa digunakan dalam keadaan emergency, bukan untuk membiayai gaya hidup anda sehari-hari," ujarnya.

Yang terpenting adalah tidak mudah terbujuk tawaran bank. Sebab, bank biasanya mengeluarkan jurus-jurus ampuh ketika ada nasabah yang ingin menutup kartu seperti memberi promosi gratis iuran bulanan. "Jika sudah memutuskan menutup kartu kredit, lebih baik Anda tidak mudah terbujuk tawaran dari bank." (adi)