Selasa, 02 Juni 2009

Pak Teddy sedang kritis dan sekarat di RS Pertamina...

"Pak Teddy sedang kritis dan sekarat di RS Pertamina Pusat..."

Demikianlah infomasi dari seorang penelepon yang kelihatannya amat sangat berbudi baik, berbicara perlahan tapi meyakinkan, ada kesan pemberitahuan yang penting dan segera ditindaklanjuti oleh si penerima. Yang menerima telepon adalah adik ipar saya, lalu di terima oleh istri saya.. Berikut percakapannya :

"Siang ibu, benar ini rumah Pak Teddy Kurniawan?..."

"Benar, darimana ya?..."

"Ini bu, saya cuma mau kabari pak Teddy sedang kritis dan sekarat di RS Pertamina Pusat..."

"Haaaah.... terus kondisi suami saya bagaimana pak?..." (istri saya mulai menangis)

"Saya kurang jelas karena langsung dibawa polisi dari TKP, saya cuma mau informasikan dokter yang menangani saat ini adalah Dokter X, nomor teleponnya adalah 0813XXXXXX, mohon hubungi segera sekarang biar ibu jelas bagaimana kondisi suami Ibu sekarang..."

"Siapa namanya? dokter siapa?..nomor HP berapa?..." (telepon mulai kresek-kresek.., maklum kabelnya pernah digigit tikus jadi kurang bagus transmisinya.

"Dr. X, HP nya 0813XXXXX bu..."

"Kurang jelas pak.."

"Koq kurang jelas sih, nih nomornya 0813xxxx, namanya Dr.xxxx (sambil marah-marah dan agak kebencong-bencongan sedikit bicaranya...."

Istri saya langsung telepon ke Flexi saya di kantor...

"Hallo..papi?..."

"Iya mami, kenapa?..."

"Ah syukurlah...papi aku dapat kabar papi kritis di RS Pertamina Pusat..."

"Wow, saya sehat-sehat saja nih saya sekarang..."

"Pulang deh pi, biar aku lega..."

Pas perjalanan pulang saya malah deg-deg an, pelaaaan banget jalan kerumahnya..

Demikianlah kisah saya, yang katanya kritis dan sekarat. 

Kesimpulannya adalah :

1. Jangan langsung percaya dengan penelepon yang sebelum bicara langsung bilang "Hallo, ini rumahnya pak...(menunggu disebutkan nama pemilik rumah, jika kita sebut "Pak Andi" maka nama tersebut akan dijadikan objek penipuan

2. Upayakan menghubungi segera yang bersangkutan, baiknya sih harus bawa HP selalu

3. Jangan panik, "kepanikan" akan dimanfaatkna untuk mendramatisir penipuan lebih lanjut

4. Jika ditindaklanjuti, maka istri saya akan tranfer uang jutaan rupiah ke rekening si penipu

Semoga berguna 

Selasa, 26 Mei 2009

Serumah sama mertua, asyik kali ya?...

Jawabannya sih, tergantung dari orangnya masing-masing, pribadi per pribadi. Seseorang bisa tinggal serumah sama mertua bisa disebabkan oleh banyak hal. Kali ini, kita lihat mengenai pribadi pria yang hidup serumah dengan mertuanya. Penyebabnya bisa beberapa hal :

1. Karena permintaan ibu mertua atau bapak mertua yang menginginkan anaknya ikut menjaga rumah dan mengurus mereka kelak jika orang tua sudah tua dan tidak bisa berbuat apa-apa (bisa jadi sang istri merupakan anak tunggal)

2. Keinginan sang istri karena masih terlalu muda atau mungkin sang istri merupakan "anak mami" yang belum berani tinggal seatap dengan orang lain

3. Kondisi ekonomi yang menyebabkan suami terpuruk dalam hal bisnis sehingga tidak tahu harus tinggal dimana, dan kebetulan mertua (walaupun agak keberatan...) memperbolehkannya. Contoh kasus : Mas Slamet bekerja sebagai pengojek dan mempunyai beberapa langganan yang dia mesti antar mulai dari pagi, antar anak sekolah. Agak siang sedikit mengantar karyawan, seorang ibu yang trauma kecopetan di bus kota sampai berkali, mungkin pikirnya, "daripada kukasih si pencopet... mungkin ada baiknya kukasih tukang ojek ini jadi simbiosis mutualisma gitu...dia dapat duit dan saya aman sampai dikantor sampai on time.." Tetapi musibah terjadi, sang karyawan harus tudag luar kota, sang anak yang bersekolah ada bus antar jemput, lalu karyawan lain harus diPHK karena krisis global (yang krisis Amerika, koq orang Indonesia yang lugu dan polos ini bisa kena?...bingung deh?...) Jadilah seorang mas Slamet beserta anak dan istrinya kembali ke mertuanya karena sudah tidak sanggup bayar kontrakan yang sebulannya Rp. 500.000,- itu.

4. Faktor lain, bolehlah kita sebut faktor "x" yang kita tidak tahu karena tiap keluarga punya manajemen masing-masing..

Apalagi, seorang teman bilang "Kalau sampai saat ini kamu nggak pernah punya masalah sama mertua, ya sudah gabung saja.." Lho koq harus saya? Ya biarlah kita uji coba dulu. Tetapi ternyata enak juga, bukan enak dalam arti saya ongkang-ongkang kaki, justru lebih berat tetapi masih membawa wibawa keluarga juga orang tua. Belum tahu nih, jika ada pendapat berbeda, bisa jadi ada yang mengatakan , "Jadi ndak dewasa dong, kayak anak kecil disuplai terus (memangnya power supply apa?)..." atau mungkin "Malu ah sama teman-teman yang sudah bisa punya rumah sendiri..." atau "..." banyaklah yang berpendapat, ini Indonesia bung, bebas berpendapat, asalkan bukan SARA atau pornografi, betul khan?... Nanti disambung lagi....