Senin, 18 Februari 2013
Waluh Bantu Sehatkan Penderita Diabetes, lho...
Waluh Bantu Sehatkan Penderita Diabetes, Lho!
Menurut penelitian terbaru, labu
merah atau yang dikenal dengan sebutan waluh, memang memiliki rasa manis, namun
ternyata mampu menyehatkan penderita diabetes.
Sayuran dari genus Cucurbita
moschata ini, memiliki indeks glikemik (GI) yang sangat rendah. Nah, makanan
yang memiliki indeks glikemik tinggi justru akan meningkatkan kadar gula dalam
darah. Oleh sebab itu, waluh sangat baik untuk penderita diabetes, menurut
laporan Boldsky.com.
Selain itu, waluh juga mampu
memperbaiki fungsi pankreas. Sayuran ini mengembalikan fungsi pankreas dengan
memperbaiki jaringan yang dirusak oleh diabetes.
Bila pankreas tidak berfungsi dengan
baik, maka pankreas akan mengalami kesulitan untuk memproduksi insulin, padahal
insulin sangat dibutuhkan tubuh untuk memecah glukosa dalam tubuh.
Cara mengolah waluh untuk penderita
diabetes juga harus diperhatikan. Sayuran itu bisa dimasak menggunakan bumbu
seperti kayu manis dan biji pala. Dua bumbu dapur ini termasuk bumbu yang ramah
terhadap penderita diabetes.
Selain itu, jangan tambahkan gula ke
dalam bahan olahan labu. Menambahkan gula sama saja dengan menghancurkan fungsi
utama waluh untuk menyehatkan penderita diabetes.
Terakhir, jangan olah waluh dengan
cara digoreng. Minyak goreng hanya akan menambahkan kalori dan merusak nutrisi
yang terkandung di dalam waluh. Cobalah untuk mengolah waluh dengan cara
dipanggang, dikukus, atau direbus. (jay)
Kamis, 31 Januari 2013
Ketahui Tanda Fisik Kerusakan Hati...Ngeri Bro!
Hati merupakan organ terbesar dan
melakukan banyak fungsi bagi tubuh.
Di dalam hati juga terjadi proses-proses penting bagi kehidupan. Hati mengatur komposisi lemak, gula dan protein dalam darah, serta membuang racun dari darah untuk kemudian dikeluarkan melalui feses dan empedu.
Jika bisa dibayangkan akibat yang akan timbul apabila terjadi kerusakan pada hati. Anda bisa mendeteksi kerusakan hati dari beberapa sinyal peringatan yang diberikan tubuh. Simak penjelasannya berikut, seperti dilansir dari Boldsky
Perubahan warna kulit,
Seperti kulit kehilangan pigmentasi dan timbul bercak putih
di kulit, yang disebut bintik-bintik hati.
Masalah pencernaan.
Gangguan pencernaan ringan juga menjadi sinyal adanya
masalah organ hati. Waspadai juga jika tubuh tak mampu mencerna air,
kemungkinan hati Anda mengandung banyak lemak.
Bau mulut.
Kinerja hati yang berfungsi tidak baik bisa dideteksi
melalui bau mulut. Penyebabnya, jumlah amonia yang berlebihan yang diproduksi
dalam tubuh.
Lingkaran mata.
Lingkaran gelap di atas dan bawah mata bisa menandakan
kerusakan hati. Jadi, jangan berpikir lingkaran hitam mata hanya tanda-tanda
kelelahan.
Perut terlihat buncit.
Ini karena pembengkakan di bawah tulang rusuk kanan bawah
akibat adanya infeksi dan kerusakan hati. Hal ini juga mengakibatkan tekanan
berat pada diagfragma yang menimbulkan rasa sakit saat bernapas.
Urin dan tinja gelap.
Perubahan warna keduanya seringkali dikaitkan dengan
dehidrasi. Tapi jika Anda selalu mengalami kondisi ini, mungkin ada yang salah
pada hati Anda.
Mata menguning.
Ketika bagian putih mata menjadi kuning atau kuku Anda
terlihat kuning, Anda harus segera mendapat perawatan. Ini adalah tanda
penyakit kuning.
Mulut terasa pahit.
Rasa pahit di mulut kerap dialami penderita penyakit hati.
Liver menghasilkan enzim yang disebut empedu. Jadi jika Anda merasakan pahit di
mulut, Anda mungkin merasakan empedu.
Selasa, 11 Desember 2012
Sejenak berhenti ber-internet, bisakah?...
Saatnya Rehat Berinternet, bisakah...?
Betul memang. Dari lahir sampai mati generasi sekarang ini hidup seolah tanpa bisa meninggalkan teknologi dan internet. Sehari-hari kita akan bersentuhan dengan dua hal ini. Dari bangun tidur hingga tidur lagi. Baik ketika sedang makan maupun dalam toilet. 24 jam x 7 hari. Nonstop.
Tapi masih ingatkah Anda tentang hasil penelitian yang dipublikasikan Juni lalu oleh professor Sriram Chellappan dari Missouri University of Science and Technology berkolaborasi dengan software engineer Raghavendra Kotikalapudi tentang hubungan internet dan depresi?
Untuk menyegarkan ingatan, mereka menemukan bahwa orang yang menggunakan/memanfaatkan internet dengan frekuensi tinggi cenderung mengalami depresi dan kegelisahan lebih sering/lebih besar dibanding pengguna internet dengan frekuensi rendah.
Kategori pengguna internet frekuensi tinggi ini meliputi mereka yang sering mengecek email, chatting, bermain game maupun sharing file.
Dan tahukah Anda bahwa baru-baru ini Michigan State University juga mempublikasikan sebuah temuan yang kurang lebih sama? Hasil penelitian yang dikepalai oleh Mark Becker ini menyatakan bahwa penggunaan media seperti bermain game, membuka apps dan SMS-an secara bersamaan juga memiliki hubungan dengan depresi dan kegelisahan.
Untungnya, jika boleh dibilang sebuah keuntungan, mereka belum menemukan kejelasan antara apakah media multitasking yang menyebabkan depresi ataukah orang yang depresi lari dari masalahnya dengan multitasking ini.
Internet memang berlaku layaknya candu. Di satu sisi ia memberikan kesenangan dan kebahagiaan yang begitu manis untuk disesap. Ada dunia yang begitu luas dan kaya untuk dijelajahi.
Pemenuhan kepuasan –- apapun bentuknya -- juga semakin mudah dilakukan berkat internet. Namun, di sisi lain ia memberikan dampak yang tidak terlalu baik, jika tidak boleh dikata buruk.
Saya kira kita setuju bahwa semenjak kehadiran internet yang bisa diakses 24 jam sehari yang tak lepas dari peran gadget ini telah 'merenggut' waktu kita baik berharga maupun tidak. Seringkali kita justru asyik-masyuk dengan smartphone ketika sedang berada satu meja dengan teman atau kekasih.
Istilah nongkrong mengalami semacam pergeseran makna karena hal ini. Jika dulu nongkrong adalah berkumpul di satu tempat untuk membicarakan banyak hal dari penting hingga tak penting -- dan juga melakukan banyak hal. Sekarang nongkrong menjadi duduk di kursi masing-masing dalam satu meja (atau lebih) dan sibuk dengan gadgetnya.
Frekuensi obrolan menjadi berkurang dan jika pun ada, isinya juga seputar dunia internet. Orang bahkan menjadi abai akan sekitarnya. Hal ini juga sampai pada aktivitas di rumah, kantor dan tempat lainnya.
Internet telah membuat banyak orang sibuk dengan 'dunianya sendiri'. Dunia maya ini telah menancapkan sihirnya sedemikian rupa sehingga tampak ada dunia yang lebih asyik untuk dijelajahi daripada dunia yang serba nyata dan bisa disentuh secara fisik ini.
Tidak ada yang salah dengan internet, tentu saja. Bukan salah internet pula ketika hal-hal negatif telah mengubah banyak sifat dan kebiasaan. Namun bisa jadi ini adalah saat yang tepat untuk menentukan dan mengaplikasikan waktu-waktu di mana kita perlu rehat berinternet. Bahasa kerennya, bijak menggunakan waktu berinternet.
Mengapa? Karena ibarat obat, dosis berlebih itu tidak bagus. Menggunakan internet dengan frekuensi tinggi ditambah multitasking media jelas bukan ide bagus. Mungkin juga ini akan menjadikan kita mampu mengatur waktu dengan lebih baik dan bijak.
Saya jadi ingat beberapa cerita tentang mereka yang mengambil time-off dari internet. Salah satunya adalah Adam Brault yang selama bulan November lalu off dari Twitter. Tidak ngetwit maupun melihat timeline Twitter.
Hasilnya? Ada kedamaian ketika pikirannya bisa bebas tanpa gangguan 'ini harus ditwitkan'. Ada kebahagiaan yang hadir akibat absennya notifikasi. Dan ada suka cita ketika pikirannya bisa fokus untuk berpikir.
Mau mencobanya?
Langganan:
Postingan (Atom)