Senin, 18 Februari 2013

Inilah Manfaat Dibalik jari Keriput Ketika Terendam dalam Air






 



Inilah Manfaat Dibalik Jari Keriput Ketika Terendam dalam Air

 


Jari keriput biasanya akan muncul ketika terkena air dalam waktu yang cukup lama, terutama ketika berenang. Ini bisa sangat menjengkelkan, tetapi jari keriput ternyata bisa membantu manusia dalam melakukan berbagai aktivitas di air.

Apa penyebabnya? Keriput di jari terjadi ketika pembuluh darah menyempit, yang membuat ujung jari menyusut dan kulit tertarik. Misalnya, ketika Anda sedang mencuci piring, tangan Anda pasti akan keriput sehingga lebih kesat dalam memegang piring-piring. Jadi, tangan keriput bisa menghentikan menjatuhkan piring-piring.

Tak hanya itu, jari keriput juga membuat seseorang lebih mudah memegang sesuatu di bawah air dan mengambil benda-benda yang basah, dengan mencegah Anda menjatuhkan peralatan.

“Kerutan di jari-jari dalam kondisi basah bisa membantu mengumpulkan makanan dari vegetasi basah atau sungai,” ujar peneliti Tom Smulders seperti dikutip Dailymail.co.uk.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan dari Newcastle University meminta partisipan untuk mengambil kelereng yang berbobot dan memindahkannya dari satu wadah ke wadah lain. Lalu, tangan partisipan direndam dalam air hangat selama setengah jam untuk membuatnya keriput.

Hasilnya, jari keriput lebih cepat saat memungut benda basah. Dan sebaliknya, jari keriput justru sulit memindahkan barang yang kering.

Smulders menambahkan, kerutan jari kaki di kamar mandi juga bisa membantu ketika berjalan dan berlari di dasar yang licin.

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Royal Society Biology Letters. (jay

Waluh Bantu Sehatkan Penderita Diabetes, lho...



Waluh Bantu Sehatkan Penderita Diabetes, Lho!
 
Menurut penelitian terbaru, labu merah atau yang dikenal dengan sebutan waluh, memang memiliki rasa manis, namun ternyata mampu menyehatkan penderita diabetes.

Sayuran dari genus Cucurbita moschata ini, memiliki indeks glikemik (GI) yang sangat rendah. Nah, makanan yang memiliki indeks glikemik tinggi justru akan meningkatkan kadar gula dalam darah. Oleh sebab itu, waluh sangat baik untuk penderita diabetes, menurut laporan Boldsky.com.

Selain itu, waluh juga mampu memperbaiki fungsi pankreas. Sayuran ini mengembalikan fungsi pankreas dengan memperbaiki jaringan yang dirusak oleh diabetes.

Bila pankreas tidak berfungsi dengan baik, maka pankreas akan mengalami kesulitan untuk memproduksi insulin, padahal insulin sangat dibutuhkan tubuh untuk memecah glukosa dalam tubuh.

Cara mengolah waluh untuk penderita diabetes juga harus diperhatikan. Sayuran itu bisa dimasak menggunakan bumbu seperti kayu manis dan biji pala. Dua bumbu dapur ini termasuk bumbu yang ramah terhadap penderita diabetes.

Selain itu, jangan tambahkan gula ke dalam bahan olahan labu. Menambahkan gula sama saja dengan menghancurkan fungsi utama waluh untuk menyehatkan penderita diabetes.

Terakhir, jangan olah waluh dengan cara digoreng. Minyak goreng hanya akan menambahkan kalori dan merusak nutrisi yang terkandung di dalam waluh. Cobalah untuk mengolah waluh dengan cara dipanggang, dikukus, atau direbus. (jay)

Kamis, 31 Januari 2013

Ketahui Tanda Fisik Kerusakan Hati...Ngeri Bro!



Ketahui Tanda Fisik Kerusakan Hati

Hati merupakan organ terbesar dan melakukan banyak fungsi bagi tubuh.

Di dalam hati juga terjadi proses-proses penting bagi kehidupan. Hati mengatur komposisi lemak, gula dan protein dalam darah, serta membuang racun dari darah untuk kemudian dikeluarkan melalui feses dan empedu.

Jika bisa dibayangkan akibat yang akan timbul apabila terjadi kerusakan pada hati. Anda bisa mendeteksi kerusakan hati dari beberapa sinyal peringatan yang diberikan tubuh. Simak penjelasannya berikut, seperti dilansir dari Boldsky 

Perubahan warna kulit, 
Seperti kulit kehilangan pigmentasi dan timbul bercak putih di kulit, yang disebut bintik-bintik hati.

Masalah pencernaan. 
Gangguan pencernaan ringan juga menjadi sinyal adanya masalah organ hati. Waspadai juga jika tubuh tak mampu mencerna air, kemungkinan hati Anda mengandung banyak lemak.

Bau mulut. 
Kinerja hati yang berfungsi tidak baik bisa dideteksi melalui bau mulut. Penyebabnya, jumlah amonia yang berlebihan yang diproduksi dalam tubuh.

Lingkaran mata.  
Lingkaran gelap di atas dan bawah mata bisa menandakan kerusakan hati. Jadi, jangan berpikir lingkaran hitam mata hanya tanda-tanda kelelahan.

Perut terlihat buncit.  
Ini karena pembengkakan di bawah tulang rusuk kanan bawah akibat adanya infeksi dan kerusakan hati. Hal ini juga mengakibatkan tekanan berat pada diagfragma yang menimbulkan rasa sakit saat bernapas.

Urin dan tinja gelap.  
Perubahan warna keduanya seringkali dikaitkan dengan dehidrasi. Tapi jika Anda selalu mengalami kondisi ini, mungkin ada yang salah pada hati Anda.

Mata menguning.  
Ketika bagian putih mata menjadi kuning atau kuku Anda terlihat kuning, Anda harus segera mendapat perawatan. Ini adalah tanda penyakit kuning.

Mulut terasa pahit. 
Rasa pahit di mulut kerap dialami penderita penyakit hati. Liver menghasilkan enzim yang disebut empedu. Jadi jika Anda merasakan pahit di mulut, Anda mungkin merasakan empedu.

Selasa, 11 Desember 2012

Sejenak berhenti ber-internet, bisakah?...

Saatnya Rehat Berinternet, bisakah...?


Jakarta - Kita ini adalah sekumpulan manusia yang menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika disebut sebagai generasi netizen. Netizen dalam arti bahwa sejak lahir hingga mati bersentuhan dan memanfaatkan teknologi dan internet.

Betul memang. Dari lahir sampai mati generasi sekarang ini hidup seolah tanpa bisa meninggalkan teknologi dan internet. Sehari-hari kita akan bersentuhan dengan dua hal ini. Dari bangun tidur hingga tidur lagi. Baik ketika sedang makan maupun dalam toilet. 24 jam x 7 hari. Nonstop.

Tapi masih ingatkah Anda tentang hasil penelitian yang dipublikasikan Juni lalu oleh professor Sriram Chellappan dari Missouri University of Science and Technology berkolaborasi dengan software engineer Raghavendra Kotikalapudi tentang hubungan internet dan depresi?

Untuk menyegarkan ingatan, mereka menemukan bahwa orang yang menggunakan/memanfaatkan internet dengan frekuensi tinggi cenderung mengalami depresi dan kegelisahan lebih sering/lebih besar dibanding pengguna internet dengan frekuensi rendah.

Kategori pengguna internet frekuensi tinggi ini meliputi mereka yang sering mengecek email, chatting, bermain game maupun sharing file.

Dan tahukah Anda bahwa baru-baru ini Michigan State University juga mempublikasikan sebuah temuan yang kurang lebih sama? Hasil penelitian yang dikepalai oleh Mark Becker ini menyatakan bahwa penggunaan media seperti bermain game, membuka apps dan SMS-an secara bersamaan juga memiliki hubungan dengan depresi dan kegelisahan.

Untungnya, jika boleh dibilang sebuah keuntungan, mereka belum menemukan kejelasan antara apakah media multitasking yang menyebabkan depresi ataukah orang yang depresi lari dari masalahnya dengan multitasking ini.

Internet memang berlaku layaknya candu. Di satu sisi ia memberikan kesenangan dan kebahagiaan yang begitu manis untuk disesap. Ada dunia yang begitu luas dan kaya untuk dijelajahi.

Pemenuhan kepuasan –- apapun bentuknya -- juga semakin mudah dilakukan berkat internet. Namun, di sisi lain ia memberikan dampak yang tidak terlalu baik, jika tidak boleh dikata buruk.

Saya kira kita setuju bahwa semenjak kehadiran internet yang bisa diakses 24 jam sehari yang tak lepas dari peran gadget ini telah 'merenggut' waktu kita baik berharga maupun tidak. Seringkali kita justru asyik-masyuk dengan smartphone ketika sedang berada satu meja dengan teman atau kekasih.

Istilah nongkrong mengalami semacam pergeseran makna karena hal ini. Jika dulu nongkrong adalah berkumpul di satu tempat untuk membicarakan banyak hal dari penting hingga tak penting -- dan juga melakukan banyak hal. Sekarang nongkrong menjadi duduk di kursi masing-masing dalam satu meja (atau lebih) dan sibuk dengan gadgetnya.

Frekuensi obrolan menjadi berkurang dan jika pun ada, isinya juga seputar dunia internet. Orang bahkan menjadi abai akan sekitarnya. Hal ini juga sampai pada aktivitas di rumah, kantor dan tempat lainnya.

Internet telah membuat banyak orang sibuk dengan 'dunianya sendiri'. Dunia maya ini telah menancapkan sihirnya sedemikian rupa sehingga tampak ada dunia yang lebih asyik untuk dijelajahi daripada dunia yang serba nyata dan bisa disentuh secara fisik ini.

Tidak ada yang salah dengan internet, tentu saja. Bukan salah internet pula ketika hal-hal negatif telah mengubah banyak sifat dan kebiasaan. Namun bisa jadi ini adalah saat yang tepat untuk menentukan dan mengaplikasikan waktu-waktu di mana kita perlu rehat berinternet. Bahasa kerennya, bijak menggunakan waktu berinternet.

Mengapa? Karena ibarat obat, dosis berlebih itu tidak bagus. Menggunakan internet dengan frekuensi tinggi ditambah multitasking media jelas bukan ide bagus. Mungkin juga ini akan menjadikan kita mampu mengatur waktu dengan lebih baik dan bijak.

Saya jadi ingat beberapa cerita tentang mereka yang mengambil time-off dari internet. Salah satunya adalah Adam Brault yang selama bulan November lalu off dari Twitter. Tidak ngetwit maupun melihat timeline Twitter.

Hasilnya? Ada kedamaian ketika pikirannya bisa bebas tanpa gangguan 'ini harus ditwitkan'. Ada kebahagiaan yang hadir akibat absennya notifikasi. Dan ada suka cita ketika pikirannya bisa fokus untuk berpikir.

Mau mencobanya?