Jumat, 20 Agustus 2010

Si Kecil Muntah Saat Makan...

Si Kecil Muntah Saat Makan


Jakarta, Saat diberi makan terkadang si kecil justru memuntahkan makanannya baik secara sengaja atau tidak. Saat kondisinya seperti itu orangtua akan bingung apakah harus menghentikan makannya atau melanjutkan makan kembali.

"Orangtua harus mempertimbangkan terlebih dahulu apa penyebab anaknya muntah saat makan apakah karena anak kekenyangan atau tidak suka dengan makanan yang diberikan. Kondisi ini biasanya paling sering terjadi saat anak mulai diperkenalkan dengan jenis makanan baru," ujar dr Rifan Fauzie, SpA, saat dihubungi detikHealth, Jumat (20/8/2010).

Lebih lanjut Fauzie menambahkan jika penyebabnya adalah karena si kecil kekenyangan, misalnya baru habis minum susu dan jaraknya terlalu dekat sehingga lambung masih penuh maka sebaiknya dihentikan.

Tapi jika bukan karena kekenyangan, maka orangtua bisa tunggu beberapa saat sampai anak tersebut tenang kembali dan mulai memberikannya makan lagi. Karena bisa jadi anak muntah akibat ada gangguan saat menelan, bayi tidak suka dengan rasa atau makanannya sehingga dengan sengaja dimuntahkan.

Mengenai porsi makan yang harus diberikan bisa saja sama dengan porsi sebelumnya jika memang anak tidak mengalami keluhan lain, namun pemberiaannya harus secara perlahan-lahan. Satu hal yang pasti jangan memaksakan atau menjejalkan makanan pada anak, karena hal ini bisa menimbulkan trauma dan bisa saja anak akan selalu menangis setiap kali akan disuapi makanan.

"Kalau anak muntahnya hanya sesekali saja ya nggak apa-apa. Tapi kalau kejadianya berulang atau setiap kali anak makan, maka harus dievaluasi lebih lanjut karena jangan-jangan ada sesuatu," ujar dokter yang berpraktek di RSAB Harapan Kita, Jakarta.

Fauzie menuturkan jika anak terlalu sering muntah saat makan, makanan baru masuk lambung sudah muntah kembali atau berat badan anak tidak naik-naik, maka hal ini sudah patut dicurigai. Karena bisa saja anak memiliki masalah pencernaan, infeksi saluran pernapasan atas yang akut atau infeksi pada saluran pencernaannya.

Selain itu orangtua seringkali mengaitkan anak yang muntah saat makan akibat masuk angin. Padahal dalam ilmu kedokteran tidak ada istilah masuk angin, dan itu hanya istilah awam saja.

"Gejala masuk angin seperti mual dan muntah bisa jadi sebagai tanda awal dari suatu penyakit, baik penyakit yang ringan ataupun berat. Karenanya orangtua harus memastikan terlebih dahulu apa penyebabnya," ungkapnya.

Selasa, 17 Agustus 2010

Makanya jangan bikin Tato dibadan kita karena...

Penyebab Tato Susah Dihilangkan

Jakarta, Ada beberapa teknik yang diklaim bisa menghilangkan tato di kulit, tapi nyatanya tato tidak dapat hilang begitu saja tanpa meninggalkan bekas. Mengapa tato bisa awet puluhan tahun dan sulit sekali dihilangkan?

Dilansir dari Ehow, Rabu (18/8/2010), tato permanen begitu sulit dihilangkan dari kulit. Salah satunya karena pembuatan tato harus menyuntikkan tinta ke dalam lapisan kulit dalam yang disebut dermis, yaitu lapisan kulit bawah setelah epidermis.

Bila masih di lapisan epidermis tato bisa saja dihilangkan, tapi pembuatan tato adalah menyuntikkan ke dalam lapisan kulit yang paling dalam.

Jika dilihat dari lapisannya, lapisan atas kulit disebut dengan epidermis. Pada lapisan ini terdiri dari lima lapisan, yaitu stratum basale, stratum spinosum, stratum granulosum, stratum lucidum dan stratum corneum.

Dua lapisan atas, yaitu stratum lucidum dan stratum corneum, merupakan sel kulit datar dan kering, tahan air dan berfungsi melindungi kulit. Sel-sel kulit akan berganti dan mengelupas dimulai pada stratum basale hingga permukaan kulit dalam satu bulan.

Nah, karena bertujuan membuat gambar yang awet, akhirnya gambar tato harus disuntikkan lebih dalam yang menembus lapisan epidermis.

Tak selesai hanya disitu, ada efek lain jika lapisan kulit dalam 'dikoyak-koyak'.

Penyuntikkan tinta tato di dalam lapisan kulit ini akan memicu reaksi sistem kekebalan (imun) tubuh, yang ironisnya akan membuat tato tertahan di kulit lebih lama.

Sel-sel pada kulit yang menyerang benda asing disebut fagosit atau phagocytes (sel pemakan). Sel pemakan ini akan menelan dan mengonsumsi partikel tinta.

Kemudian, fibroblas (sel-sel yang memproduksi kolagen) akan mengunci fagosit bersama jaringan di bawah kulit, tepat di bawah epidermis yang memenuhi dermis, sekitar 1 milimeter dari permukaan kulit.

Hal ini memungkinkan tinta tinggal di lapisan kulit tersebut selama bertahun-tahun.

Dilansir dari Medic8, ada beberapa alasan lagi yang membuat tato sulit dihilangkan yaitu warna tato yang digunakan dan warna kulit orang yang ditato.

Warna tato tertentu seperti hitam, hijau dan cokelat akan lebih mudah dihilangkan ketimbang merah, oranye dan putih. Dan tato satu warna seperti hitam atau biru jauh lebih mudah untuk dihilangkan.

Untuk warna kulit, orang dengan kulit warna gelap akan lebih sulit untuk menghilangkan tato ketimbang orang dengan warna kulit lebih terang.

Pada orang kulit gelap ada risiko bekas luka atau kehilangan pigmen kulit alami walaupun dilakukan dengan menggunakan teknik laser.

Senin, 16 Agustus 2010

Kalo Lapar Perut Bunyi, Kenapa Yah?...

Bunyi Perut Saat Puasa


Jakarta, Pada saat berpuasa, tak jarang perut mengeluarkan bunyi-bunyi aneh yang terkadang membuat orang malu bila sedang berada di ruangan yang hening. Apa yang menyebabkan perut berbunyi saat puasa?

Bunyi perut saat puasa merupakan suatu hal yang wajar. Tapi pada beberapa orang, bunyi yang ditimbulkan bisa lebih keras atau berlebihan.

Dalam kondisi kosong, perut mulai memproduksi hormon yang dapat menstimulasi saraf lokal untuk mengirim pesan ke otak. Selanjutnya otak akan membalas dengan memberi sinyal pada otot pencernaan untuk memulai kembali gerakan peristaltik (gerakan otot pencernaan).

Pada dasarnya, bunyi pada perut disebabkan oleh kombinasi dari peningkatan gerakan peristaltik dan komponen dari rongga usus, seperti udara, cairan dan kotoran. Bunyi yang ditimbulkan akan semakin sering dan keras bila udara dalam saluran pencernaan berlebihan dan perut kosong.

"Biasanya bunyi perut terjadi saat perut kosong, setidaknya 8 jam setelah makan. Kalau kita sahur jam 4, maka kemungkinan bunyi perut sering terdengar di atas jam 12 siang," ujar Dr.H.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB,FINASIM, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Lambung dan Pencernaan, FKUI-RSCM, saat dihubungi detikHealth, Senin (16/8/2010).

Selain itu, menurut Dr Ari, suara yang ditimbulkan perut juga disebabkan karena lambung sudah mulai kosong, sehingga tidak ada makanan yang dicerna lagi dan menimbulkan gas.

Nah, gas dalam lambung ini akan semakin meningkat bila orang mengonsumsi makanan yang dapat menghasilkan gas, seperti kol, sawi, minuman bersoda, cokelat, keju dan makanan berlemak.

"Untuk mengurangi bunyi-bunyian perut, maka pada saat sahur orang sebaiknya menghindari makan-makanan yang dapat menghasilkan gas, terlebih kalau orang itu sudah punya penyakit maag," tambah dokter yang menjabat Wakil Sekjen PAPDI (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia).

Menurut Dr Ari, beberapa makanan yang perlu dihindari agar perut tidak berbunyi adalah sebagai berikut:

1. Kol dam sawi
2. Minuman bersoda
3. Cokelat dan keju
4. Makanan berlemak dan ketan. Lemak dan ketan juga dapat menghasilkan gas, karena komposisi yang terkandung di dalamnya sulit dicerna sehingga proses pencernaan lebih lama dan memicu timbulnya gas dalam saluran pencernaan.
5. Mie instan. Tak hanya kandungan pengawet dan penyedap rasa yang menyebabkan mie instan tidak sehat, tetapi struktur mie yang cepat mengembang juga dapat menghasilkan gas dalam saluran pencernaan dan memicu bunyi perut.

Kamis, 05 Agustus 2010

Makanan Pedas Bisa Turunkan Tekanan Darah

Makanan Pedas Bisa Turunkan Tekanan Darah

Chongqing, China, Bagi orang dengan tekanan darah tinggi, beberapa makanan seperti makanan asin dan kafein harus dihindari. Tapi bagi yang doyan dengan makanan pedas, maka makanan tersebut bisa menjadi obat untuk menurunkan tekanan darah.

Menurut penelitian terbaru, makan makanan yang bisa menyebabkan lidah seperti terbakar alias makanan pedas, dapat membantu menurunkan tekanan darah. Hal ini sangat membantu bagi orang yang memiliki tekanan darah tinggi.

"Hipertensi mempengaruhi lebih dari 20 persen orang di China utara-timur dibandingkan 10 sampai 14 persen di China selatan-barat, dimana banyak penduduk disana yang makan makanan yang pedas dan panas," jelas Profesor Zhiming Zhu, yang memimpin penelitian, seperti dilansir dari Dailymail, Kamis(5/8/2010).

Peneliti dari Third Military Medical University, China, menemukan bahan aktif yang memberi rasa panas pada cabai, yaitu senyawa yang disebut dengan capsaicin, dapat membantu merelaksasi pembuluh darah. Pembuluh darah yang rileks membuat tekanan darah normal atau turun bagi orang dengan tekanan darah tinggi.

Capsaicin merupakan bahan kimia nabati yang berasal dari alam. Bahan ini digunakan oleh cabai untuk sistem pertahanan dirinya agar tidak dimakan oleh pemangsa seperti hewan.

Senyawa capsaicin bekerja dengan mengaktifkan saluran reseptor yang ditemukan pada lapisan pembuluh darah. Hal ini menyebabkan peningkatan produksi oksida nitrat, yaitu molekul gas yang dikenal dapat melindungi dari peradangan dan disfungsi vaskular.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat seberapa banyak cabai yang perlu dimakan setiap hari untuk dapat berdampak positif pada tubuh manusia, terutama yang berhubungan dengan tekanan darah.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan pada jurnal Cell Metabolism edisi bulan Agustus.

Jumat, 30 Juli 2010

Mengurus Anak Juga Menjadi Ayah.

Mengurus Anak Juga Menjadi Urusan Ayah

Jakarta, Mengurus anak selalu identik dengan urusan perempuan atau kaum ibu. Padahal seharusnya mengurus anak adalah tugas dari kedua orangtuanya yang berarti melibatkan ayah dan ibunya.

Urusan seperti mempersiapkan makanan anak, mengganti popok, memandikan hingga masalah tumbuh kembang lainnya mayoritas hanya dilakukan oleh kaum ibu.

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar, S.IP pun menyindir bahwa sebenarnya ayah harus turut berperan dalam mengurusi proses tumbuh kembang anak.

"Urusan anak sebaiknya jangan hanya urusan ibu saja, tapi menjadi urusan ayah juga," ujar ibu menteri disela-sela acara Mother & Baby Fair di Balai kartini Jakarta, Jumat (30/7/2010).

Lebih lanjut Menteri yang akrab disapa Linda Gumelar ini mengajak masyarakat untuk membangun kesadaran sedini mungkin bahwa pemenuhan hak tumbuh kembang anak adalah suatu hal yang sangat penting.

Khususnya pada pengembangan anak usia dini yaitu sejak anak masih berada di dalam rahim ibunya sampai anak berusia sekitar 6 tahun. Tumbuh kembang anak ini nantinya akan menentukan derajat kesehatan, intelegensia, kematangan emosional dan juga spiritual dari si anak.

Selain itu berbagai temuan ilmiah juga mengungkapkan bahwa proses pertumbuhan sejak bayi masih di dalam rahim hingga 2 tahun kehidupan pertamanya merupakan tahap yang sangat kritis dalam perkembangan jaringan otaknya.

"Jika pada tahap tersebut kebutuhannya bisa terpenuhi dengan baik, maka anak akan bisa tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan karunia yang diberikan Tuhan," ungkapnya.

Saat ini akses bagi para orangtua untuk mendapatkan informasi sudah semakin mudah dan banyak. Sehingga orangtua bisa mendapatkan segala informasi yang dibutuhkan mengenai proses tumbuh kembang anaknya dengan cepat.

Kenapa Perut Lapar Setelah Berenang

Kenapa Perut Lapar Setelah Berenang?

Jakarta, Berenang merupakan salah satu olahraga yang baik, karena melibatkan banyak otot dan organ tubuh. Namun sebagian besar orang akan merasa sangat lapar setelah melakukan olahraga ini padahal sebelumnya sudah cukup makan.

Rasa lapar yang muncul setelah berenang disebabkan oleh dua hal, pertama adanya perubahan suhu saat seseorang keluar dari kolam renang dan kedua akibat dehidrasi.

Air yang digunakan untuk berenang biasanya akan lebih dingin dibandingkan udara di sekitar. Merendam tubuh di dalam air yang dingin akan menurunkan suhu tubuh seseorang. Sehingga saat seseorang keluar dari kolam renang atau ke udara yang bersuhu lebih panas, tubuh akan berusaha untuk menormalkannya.

Dikutip dari That'sfit, Sabtu (31/7/2010), untuk menormalkannya dibutuhkan bahan bakar atau energi yang besar, karenanya tubuh akan mengirimkan sinyal rasa lapar sehingga seseorang akan makan dengan lahap setelah berenang.

Sebuah cara yang baik untuk mengatasi perubahan suhu di dalam tubuh ini adalah dengan melakukan beberapa peregangan ringan, berjalan cepat atau terkena air yang hangat.

Penyebab kedua yang harus diperhatikan adalah mengonsumsi cairan yang cukup setelah berenang. Beberapa orang terkadang tidak merasa rasa haus setelah berenang padahal saat berenang tubuh juga kekurangan air. Jika seseorang terus berenang tanpa mengonsumsi air sama sekali nantinya bisa memicu dehidrasi.

Setiap sel di dalam tubuh manusia membutuhkan air, seperti otot-otot memerlukan 75 persen air, paru-paru memerlukan 95 persen air, darah memerlukan 82 persen air dan tulang memerlukan 25 persen air. Ketika tubuh tidak memiliki air yang cukup, maka sistem tidak akan bisa bekerja secara optimal.

Cara terbaik untuk mengatasinya adalah sebaiknya mengonsumsi 500 ml air 20-30 menit sebelum berenang, minum 200-300 ml air setiap 10-15 menit berada di kolam renang dan mengonsumsi 500 ml air jika sudah keluar dari kolam renang. Hal ini juga membantu menstabilkan suhu tubuh dan menghindari dehidrasi.

Kamis, 22 Juli 2010

Maksud Hati Mengajarkan Pedidikan Seka, Ternyata Salah

Maksud Hati Mengajarkan Pendidikan Seks, Ternyata Salah

Banyak orangtua moderen saat ini yang mulai memberikan pendidikan seks pada anaknya sejak dini agar si anak paham

Kini yang mulai memberikan pendidikan seks pada anaknya sejak dini agar si anak paham. Namun yang terjadi banyak orangtua yang salah kaprah tentang pendidikan seks pada anak.

Yang banyak terjadi pendidikan seks yang diberikan orangtua sampai ke hubungan seksual karena maraknya informasi seks di media. Padahal yang lebih dibutuhkan anak adalah pengetahuan tentang jenis kelamin, apa fungsinya, bagaimana merawatnya dan melindunginya.

Pendidikan seks yang benar adalah mengajarkan dan memberikan informasi tentang masalah seksual dengan menanamkan moral, etika, komitmen agama agar tidak terjadi penyalahgunaan. Karena pendidikan seks merupakan cikal bakal dari pendidikan berkeluarga.

"Tapi saat ini banyak orangtua yang salah kaprah tentang konsep dari pendidikan seks. Seks itu artinya adalah jenis kelamin, jadi pendidikan seks adalah pendidikan tentang jenis kelamin dan bukan tentang hubungan seksual," ujar Sani B Hirawan, MPsi dalam acara konferensi Smart Parents Membantu Orangtua Gali Potensi Anak Pada Golden Periode di Annex Building Wisma Nusantara Complex, Kamis (22/7/2010).

Pendidikan seks tentang jenis kelamin ini juga penting agar anak terhindar dari pelecehan seksual karena orangtua mengajarkan bagaimana melindungi alat kelaminnya.

"Pendidikan seks dimulai sejak dini hingga seseorang menikah. Bagusnya pendidikan seks ini diberikan jika sudah terbangun dialog dua arah antara orangtua dengan anak, yaitu sekitar usia 2-3 tahun," ungkap psikolog dengan 3 orang anak ini.

Saat usia itu anak-anak dimulai dengan penyebutan alat kelamin yang benar, lalu dilanjutkan dengan fungsinya untuk apa. Jika anak sudah mengerti ajarkan bagaimana cara merawat dan memelihara alat kelamin.

Saat berusia remaja, maka pendidikan seks yang diberikan adalah untuk mengetahui bagaimana anak memahami tentang pubertas misalnya tentang mimpi basah, tumbuhnya jakun atau menstruasi untuk anak perempuan.

Saat berusia pranikah, baru pendidikan seks yang diberikan berisi tentang bagaimana melakukan hubungan seks yang sehat. Sedangkan untuk orang yang sudah menikah, maka pendidikan seks yang diberikan adalah bagaimana agar hubungan seks tetap berkualitas.

"Daripada anak mencaritahu sendiri, lebih baik kita atau orangtua yang memberitahu. Karenanya pendidikan seks sebaiknya dimulai sejak kecil sehingga nantinya tidak canggung lagi, terutama jika anak sudah remaja," ujarnya.

Tapi pemberian pendidikan seks ini juga banyak hambatan karena beberapa faktor seperti:

1. Budaya timur yang cenderung masih tabu dalam membicarakan tentang seks.
2. Ketidaktahuan orangtua untuk memulai dialog.
3. Adanya rasa malu dan juga canggung.
4. Belum memahami sepenuhnya mengenai manfaat yang diperoleh.
5. Bingung mengenai media atau materi yang akan diinformasikan.
6. Khawatir anak akan semakin tertarik dengan masalah seksual.